Selamat Datang di blog Wahdi Asmara

Apa yang Anda cari..?
Ringtone untuk hp..? Style untuk keyboad KORG PA..? Atau mau tau lebih banyak tentang Pantun..?

PANTUN

Banyak tulisan yang khusus mengulas tentang Pantun, namun tidak semua informasi perihal pantun termuat di sana, tidak terkecuali di Blog Wahdi Asmara ini.

Pengetahuan saya tentang pantun juga tidak begitu banyak, namun mudah-mudahan tetap menjadi informasi yang berguna bagi kita semua.


Untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi, saya menyarankan agar Anda juga membaca tulisan-tulisan tentang sastra dan bahasa, serta menonton siaran-siaran pendidikan yang mengulas tentang sastra dan bahasa Indonesia.




PANTUN


Adalah salah satu jenis puisi lama. Pada mulanya merupakan sastra lisan, namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.

Pantun terdiri atas dua bagian, sampiran dan isi. Sampiran adalah bagian yang mengantarkan rima/sajak. Sedangkan Isi adalah bagian yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.




Struktur dan Ciri-ciri Pantun



Satu bait pantun (sebuah pantun) terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan).

Satu larik pantun biasanya terdiri atas 2-6 kata dan 8-12 suku kata, namun yang paling sering ditemui adalah 4 kata.


Pada tiap akhir larik terdapat  rima / sajak,  yang berpola  a-b-a-b.


Pantun terdiri dari  sampiran  pada dua baris pertama, dan  isi  pada dua baris terakhir.

Sampiran  pada pantun berfungsi menyiapkan rima dan irama supaya mempermudah pendengar memahami isi pantun, sedangkan  isi  adalah tujuan dari pantun itu sendiri. Sampiran  terhadap  isi  tidak memiliki hubungan makna. Karena jika memiliki hubungan makna tidaklah disebut sebagai pantun, melainkan hanya Syair bersajak.



Fungsi Pantun



Secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat  penguat  penyampaian pesan.
Suatu pesan (Baik itu nasihat, sindiran dan lain-lain) akan terdengar lebih menarik jika disampaikan dalam bentuk pantun.
Sebagai contoh, ketika seseorang berpidato, pada saat dia mengakhiri pidatonya biasanya pasti mengucapkan "Sekian, Terimakasih, Assalamu'alaikum". Cara mengakhiri pidato semacam itu sudah sangat umum kita temui, dan terkesan biasa-biasa saja. Tetapi akan terdengar lebih menarik jika salam penutup pidato disampaikan dalam bentuk pantun.
Contoh:

"Teringat jalan  sama kekasih..

Aku-pun tersenyum  di waktu Subuh..
Cukup sekian  terima kasih..
Assalamu'alaikum  warahmatullah wabarkatuh..."



Pola Sajak Pantun



Sajak / rima  pantun harus berpola  a-b-a-b.

Maksudnya adalah rima pada baris ke-1 harus sama dengan baris ke-3, sedangkan baris ke-2 harus sama dengan baris ke-4.

Contoh:

"Tiada kusangka   si pohon cengke h..

Buahnya tiada  tanda tak subur..
Kita merdeka  60 tahun labih..
Harusnya kita  sudah makmur..."

Jika kebetulan seluruh baris memiliki  sajak  yang sama, maka bisa dikatakan pantun tersebut berpola  a-a-a-a.

Contoh: 

"Buah nangka  buah anggu r..

Jangan disentuh  bila berlumpur..
Sudah merdeka  patutlah bersyukur..
Jangan mengeluh   meski belum makmur..."


Pola Sajak Pantun   juga berlaku untuk akhiran yang dianggap mirip. Misalnya "m" dengan "n", "b" dengan "p", "d" dengan "t", "s" dengan "z", dan yang lainnya yang dinggap mirip.

Contoh:

"Labu merah  si labu siam..

Jambu biji  lebat di taman..
Seminggu sudah  waktu berjalan..
Ketemu lagi  sama teman-teman..."


Juga berlaku untuk akhiran yang bunyinya sama, meskipun tulisannya berbeda.

Contoh:

"Nongol benjolan  dekat pelipis..

Tutuplah saja  memakai peci..
Kalau kalian  mau dekat-dekat artis..
Makanya..,  jadi  MC..."


PANTUN STANDAR, PANTUN APIK, DAN PANTUN SUPER APIK


Pada masa sekarang ini pantun sudah jarang diminati oleh masyarakat, terutama anak muda. Padahal pantun adalah  sastra  asli  Indonesia. Sebagai anak bangsa, kita hendaknya senantiasa menjaga warisan budaya milik kita.


Untuk menumbuhkan kembali minat masyarakat terhadap pantun, para Pemantun masa kini mulai meningkatkan kualitas pantun yang mereka sajikan agar lebih menarik. Menurut pengamatan saya, Pantun masa kini mempunyai rima lebih banyak dari pada pantun gaya lama. Dan menurut saya, pantun masa kini memang terdengar lebih enak di telinga.


Menurut susunan rima / sajaknya saya membagi pantun menjadi tiga bagian, yaitu: Pantun Standar, Pantun Apik, dan Pantun Super Apik.


Pantun Standar   adalah pantun yang susunan kalimat pada tiap barisnya sudah memenuhi struktur standar pantun, yakni  bersajak akhir dengan pola  a-a-a-a  atau  a-b-a-b. Pantun jenis ini disebut juga Pantun Pemula.


Contoh:


PANTUN JENAKA


"Ada sapi di tengah taman..

Jumlahnya tujuh delapan..
Cari teman jangan yang hitam..
Kalau pas gelap gak kelihatan..."


Pantun Apik  adalah jika terdapat pola sajak di dua kata utama pada tiap baris pantun. Pantun jenis ini adalah pantun yang paling banyak kita jumpai.


Contoh:


PANTUN JENAKA, EJEKAN



"Kayu dicari  ke dalam hutan..
Datang pemburu  menembak macan..
Hey  Opi  kamu jangan sok merasa tampan..
Kemana rambutmu  bagian depan..? "


Pantun Adi Apik (Super Apik)  adalah  jika pola sajaknya terdapat di empat kata utama pada tiap baris pantun.


Contoh:


PANTUN TEBAK-TEBAKAN, PLESETAN


"Negara  Turki   Istamb ul  kotanya..

Teluk  Bayur  di  Tanah  Minang  letaknya..
Kepada  Putri  hendak  aku  bertanya..
Badut  tidur  bahasa  Jepangnya  apa..? "
                                                           Jawaban: PYAMA (= baju tidur)



Pantun Sempurna dan Pantun Kurang Sempurna


Pantun terdiri dari  sampiran  dan  isi. Sampiran terhadap isi tidak memiliki kaitan makna (hanya mempunyai kaitan bunyi), Kalimat pada sampiran biasanya hanya seputar realitas alam (seperti nama-nama buah, hewan, nama-nama kota, dan lain-lain).

Meski maksud / tujuan pantun terletak pada bagian isi, kalimat pada sampiran juga turut menentukan bagus tidaknya sebuah pantun.


Dilihat dari makna kalimatnya (kalimat pada sampiran), pantun yang baik disebut juga  Pantun Sempurna.

Ciri-ciri  pantun sempurna  adalah sebagai berikut:

1.

Sampiran baris pertama  dan  sampiran baris ke dua  hendaklah  saling berhubungan.
Contoh  pantun dengan  sampiran  yang  tidak saling berhubungan:

PANTUN SINDIRAN


"Koin habis  bermain valas..

Menara Dubai  tertinggi di dunia..
Mengirim SMS  ingin segera dibalas..
Mengira orang santai  kayak dirinya..."

2.

Sampiran  dan  isi  bisa  bertukar posisi ( sampiran menjadi isi, isi menjadi sampiran).
Contoh:

PANTUN SINDIRAN


"Punya MERCY barangnya mulus..

Tapi bensinnya sangat boros..
Punya kekasih badannya kurus..
Tapi makannya sangat rakus..."

Bisa tukar posisi menjadi:


"Punya kekasih badannya kurus..

Tapi makannya sangat rakus..
Punya MERCY barangnya mulus..
Tapi bensinnya sangat boros..."

Setiap pantun yang memenuhi syarat nomor 1, maka biasanya akan juga memenuhi syarat nomor 2 ini.


3.

Terdapat suatu informasi (fakta) pada sampiran, yang nantinya akan menjadi pengetahuan tambahan bagi pendengar.
Contoh:

PANTUN TERHADAP PEREMPUAN, RAYUAN


"Bermula ilmu  di dalam buku..

Permulaan pantun  sampiran dulu..
Bila kau bertemu  dengan diriku..
Berikan senyum  jangan kau malu..."

4.

Jika kalimat dalam sampiran mengandung sebuah informasi (fakta), maka kalimat tersebut haruslah sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Contoh  pantun dengan sampiran yang  tidak sesuai  dengan fakta:

PANTUN NASIHAT


"Jalan-jalan  ke Pekan Baru..

Ibu kotanya  Sumatra Selatan..
Jika kalian  nonton film biru..
Pasti nantinya  rusak pikiran..."

5.

Terdapat makna terselubung, atau bahkan makna yang sangat mendalam pada  sampiran, meskipun pesan utama (tujuan) pantun terdapat pada bagian  isi. Dan inilah jenis pantun dengan derajat tertinggi.
Contoh:

PANTUN SALAM PENUTUP (dalam Bahasa Banjar)


"Taungut tadiam  rahatan bakamih..

Jangan bakakulum  mun balum babasuh..
Cukup sakian  wan takima kasih..
Assalamu'alaikum  warahmatullah wabarkatuh..."


Adapun  Pantun Kurang Sempurna  yaitu pantun yang tidak memiliki ciri-ciri  Pantun Sempurna.
Contoh pantun yang kurang sempurna:

(1). PANTUN SINDIRAN


"Koin habis  bermain valas..

Menara Dubai  tertinggi di dunia..
Mengirim SMS  ingin segera dibalas..
Mengira orang santai  kayak dirinya..."

(2). PANTUN NASIHAT


"Jalan-jalan  ke Pekan Baru..

Ibu kotanya  Sumatra Selatan..
Jika kalian  nonton film biru..
Pasti nantinya  rusak pikiran..."

Dua contoh pantun di atas tergolong pantun yang kurang sempurna.

Berikut ini adalah analisanya:

Contoh nomor (1). 


Pantun tersebut tergolong pantun yang Kurang Sempurna. Mengapa..?  Perhatikanlah kalimat yang digunakan pada sampirannya. Baris pertama terhadap baris ke dua tidak ada hubungannya sama sekali. Koin yang habis untuk bermain valas tidak ada kaitannya dengan Menara Dubai yang tertinggi di dunia.


Meski pantun tersebut tergolong Pantun Yang Kurang Sempurna, ia tetaplah sebuah pantun yang berkualitas. Hal itu bisa dirasakan dari Sindirannya yang sangat kuat, penggunaan kata-kata yang melampaui kualitas struktur dasar pantun, berjenis Pantun Super Apik, serta memuat satu informasi yang belum banyak orang tau (bahwa menara tertinggi di dunia ada di kota Dubai, Uni Emirat Arab).


Pantun yang Kurang Sempurna seperti pada contoh nomor satu ini masih layak untuk disampaikan / dipublikasikan. Di masyarakat luas pantun-pantun seperti itu banyak sekali saya temui, bahkan tidak sedikit yang dijadikan lirik lagu.



Contoh nomor (2)

Pantun tersebut juga tergolong Pantun yang Kurang Sempurna. Mengapa..?  Kalimat pada sampirannya memuat informasi yang tidak sesuai fakta. (Pekan Baru bukan ibu kota provinsi Sumatra Selatan).


Meskipun isi pantun tersebut merupakan nasihat yang sangat baik, namun karena mempunyai cela yang sangat parah pada sampirannya, lantas menjadikan pantun tersebut tidak dianggap sebagai pantun yang baik.


Jika pantun seperti pada contoh no. (1)  masih layak untuk disampaikan / dipublikasikan, maka pada contoh no. (2) ini  menurut saya tidaklah layak untuk disampaikan / dipublikasikan, bahkan terasa sangat memalukan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar